Artikel

Trend Lampu Pintar yang Dikendalikan dengan Suara

08 January 2018 | 10:25 WIB

Lampu pada umumnya menggunakan saklar yang di tempelkan di dinding untuk menghidupkannya. Namun, seiring berkembangnya teknologi, lampu pun juga ikut terkena cipratan dari teknologi canggih sehingga banyak bermunculan sebuah teknologi lampu pintar. Seperti smartphone yang disebut sebagai ponsel pintar yang memiliki banyak keunggulan dan fitur, begitu pula dengan lampu pintar ini. Lampu ini sedikit berbeda dengan lampu biasa karena dikendalikan menggunakan aplikasi ataupun asisten ponsel seperti Siri yang terdapat di iPhone.

Contoh lampu pintar yang beredar di kalangan masyarakat Indonesia yang sangat terkenal adalah Phillips Hue. Kecanggihan yang ditawarkan dari lampu ini sangatlah beragam dan berbagai fitur menarik juga di tanamkan. Mengendalikannya juga dapat menggunakan suara. Hebat bukan?

Namun, karena harganya yang lumayan mahal untuk ukuran sebuah lampu mungkin FIFers masih agak ragu untuk membelinya bukan? Untuk mengurangi keraguan maka kita akan menunjukkan kegunggulan dari lampu pintar ini

1. Praktis dan tidak ribet!
Lampu yang dapat kita nyalakan dari mana saja tentu akan sangat menguntungkan bagi kita. Dengan begitu saat sedang sibuk dan malas untuk menghidupkan lampu kita tidak perlu repot untuk menggapai saklar karena kita dapat menghidupkannya dengan bantuan smartphone atau suara kita saja

2. Aman dan rendah daya
Seperti yang diklaim oleh salah saru brand lampu pintar yaitu Phillips yang dimana lampu pintar mereka diklaim aman dan rendah daya. Menarik sekali ya kalau menggunakan lampu pintar bisa membantu kita menghemat biaya listrik yang harus kita bayar setiap bulan.

3. Mengatur tingkat kecerahan dan warna
Kebanyakan lampu pintar memang di desain mempunyai fitur ini sehingga dapat dengan mudah menyesuaikan kegiatan Anda seperti sedang membaca, menonton tv, mengobrol dan warna pun dapat diatur sesuai mood kita!

Tertarik untuk memilikinya, FIFers?

Source: 1 | 2 | 3

Photo Credit: meethue.com

Ada yang bisa FIONA bantu? →